<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8980863</id><updated>2011-04-22T06:10:12.543+03:00</updated><title type='text'>"As You Move Through Time, Layer on Layer .... !"</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://baia-profile.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8980863/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baia-profile.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Baianoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05442010809055020370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8980863.post-111401056749398690</id><published>2005-04-20T18:21:00.001+03:00</published><updated>2005-04-20T18:22:47.496+03:00</updated><title type='text'>Assalamu'alaikum.........</title><content type='html'>KETIKA sang waktu mulai mengepakkan sayapnya. Tak aral jika noda&amp;sup2 kehidupan pun membuntuti, mengikuti, laiknya untaian nafas yang terus berhembus. Meniti setiap detak jantung dan menyambut indahnya si ufuk timur. Serta merenggut malangnya senja kalbu. Menoleh ke kanan merenungi apa itu kesucian yang hadir tanpa nyawa. Menunduk ke kiri seolah menawarkan racun yang telah membeku, merasuki setiap relung-relung hitam. Lalu, melangkah nun berteriak lantang di saat penghinaan itu terus menggerogoti dan mencaci maki. Meski di sudut lain sekuntum sukma mencoba untuk memeluknya. Dan tak mengerti mengapa seonggokan salju abadi justru membuatnya sebagai perisai kehangatan. Sementara sinar surya hanyalah sebatas buaian yang tak kunjung memudar. Mengemis, meronta, menyanjungkan kekhilafan putih yang terus ternaifkan. Seraya meluluh-lantahkan sejumput kemunafikan. Jati diri ini, meranaku, menangisku, biarlah sang zaman mengejawantahkan siapakah Aku ini!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah semuanya terus mengalir. Meredupkan cahaya mata yang Aku puja. Sampai suatu saat Dia mengizinkanku untuk menengadahi reinkarnasi. Terdiamku memapahkan janji yang penuh dusta. Ucap ini tak mampu memberikan keputusasaan. Maka dengan meneteskan alunan kemurnian Aku muncul di remang&amp;sup2 alam semesta ini. Jiwaku telah memberontak lantang menantang alur keniscayan ini. Melacuri langkah-langkah bidadari cantikku. Dan &lt;i&gt;lima belas&lt;/i&gt;, bulan &lt;i&gt;kosong empat&lt;/i&gt;, tapi &lt;i&gt;delapan juta sembilan ratus empat puluh satu ribu tiga ratus dua puluh&lt;/i&gt; detik yang lalu, untuk kepertamakalinya diriku menjilati makna dari sebuah makhluk. Aku terlahir sebagai hamba-Nya yang akan bertuangkan angkara murka. Namun kesunyian malam telah membuatku patuh akan percaya diri. Serta Masa demi masa ternyata mengajariku untuk mencari sebuah keajaiban. Meraih sebuah renungan keabadian. Manusia ini teruntai kedamaian, membujukkan senyuman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setapak lagi bunda, orang yang akan selalu Aku sanjung&amp;sup2, selalu memberikanku nyawa. Menggodaku untuk bisa mengerti siapa sebenarnya Aku ini. Walau terkadang menggertak di kala Aku ingin menopangkan darah. Sayang, hanya satu yang belum mampu Aku kecup di alam ke munafikkan ini. Terlalu menyayat jika nafsu ku terus membuai, bahkan sangat tak mungkin sejuta kenistaan akan selalu menjadi mahkotaku. Jujurku akhirnya menggema meminta kepada arwah&amp;sup2 yang melata. Meski Aku sadar bahwa kepicikan ini tak bisa mengantarku ke nirwana. Mahadewiku izinkanlah Aku menuangkan cinta kepada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan... Oh Bunda... Pinta akhirku... Ajarilah Aku mengetuk pintu surga sekali saja.......!! :x&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8980863-111401056749398690?l=baia-profile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baia-profile.blogspot.com/feeds/111401056749398690/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8980863&amp;postID=111401056749398690' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8980863/posts/default/111401056749398690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8980863/posts/default/111401056749398690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baia-profile.blogspot.com/2005/04/assalamualaikum_20.html' title='&lt;i&gt;&lt;b&gt;Assalamu&apos;alaikum.........&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;'/><author><name>Baianoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05442010809055020370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8980863.post-111401055545379218</id><published>2005-04-20T18:21:00.000+03:00</published><updated>2005-04-20T18:22:35.456+03:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>KETIKA sang waktu mulai mengepakkan sayapnya. Tak aral jika noda&amp;sup2 kehidupan pun membuntuti, mengikuti, laiknya untaian nafas yang terus berhembus. Meniti setiap detak jantung dan menyambut indahnya si ufuk timur. Serta merenggut malangnya senja kalbu. Menoleh ke kanan merenungi apa itu kesucian yang hadir tanpa nyawa. Menunduk ke kiri seolah menawarkan racun yang telah membeku, merasuki setiap relung-relung hitam. Lalu, melangkah nun berteriak lantang di saat penghinaan itu terus menggerogoti dan mencaci maki. Meski di sudut lain sekuntum sukma mencoba untuk memeluknya. Dan tak mengerti mengapa seonggokan salju abadi justru membuatnya sebagai perisai kehangatan. Sementara sinar surya hanyalah sebatas buaian yang tak kunjung memudar. Mengemis, meronta, menyanjungkan kekhilafan putih yang terus ternaifkan. Seraya meluluh-lantahkan sejumput kemunafikan. Jati diri ini, meranaku, menangisku, biarlah sang zaman mengejawantahkan siapakah Aku ini!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah semuanya terus mengalir. Meredupkan cahaya mata yang Aku puja. Sampai suatu saat Dia mengizinkanku untuk menengadahi reinkarnasi. Terdiamku memapahkan janji yang penuh dusta. Ucap ini tak mampu memberikan keputusasaan. Maka dengan meneteskan alunan kemurnian Aku muncul di remang&amp;sup2 alam semesta ini. Jiwaku telah memberontak lantang menantang alur keniscayan ini. Melacuri langkah-langkah bidadari cantikku. Dan &lt;i&gt;lima belas&lt;/i&gt;, bulan &lt;i&gt;kosong empat&lt;/i&gt;, tapi &lt;i&gt;delapan juta sembilan ratus empat puluh satu ribu tiga ratus dua puluh&lt;/i&gt; detik yang lalu, untuk kepertamakalinya diriku menjilati makna dari sebuah makhluk. Aku terlahir sebagai hamba-Nya yang akan bertuangkan angkara murka. Namun kesunyian malam telah membuatku patuh akan percaya diri. Serta Masa demi masa ternyata mengajariku untuk mencari sebuah keajaiban. Meraih sebuah renungan keabadian. Manusia ini teruntai kedamaian, membujukkan senyuman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setapak lagi bunda, orang yang akan selalu Aku sanjung&amp;sup2, selalu memberikanku nyawa. Menggodaku untuk bisa mengerti siapa sebenarnya Aku ini. Walau terkadang menggertak di kala Aku ingin menopangkan darah. Sayang, hanya satu yang belum mampu Aku kecup di alam ke munafikkan ini. Terlalu menyayat jika nafsu ku terus membuai, bahkan sangat tak mungkin sejuta kenistaan akan selalu menjadi mahkotaku. Jujurku akhirnya menggema meminta kepada arwah&amp;sup2 yang melata. Meski Aku sadar bahwa kepicikan ini tak bisa mengantarku ke nirwana. Mahadewiku izinkanlah Aku menuangkan cinta kepada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan... Oh Bunda... Pinta akhirku... Ajarilah Aku mengetuk pintu surga sekali saja.......!! :x&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8980863-111401055545379218?l=baia-profile.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://baia-profile.blogspot.com/feeds/111401055545379218/comments/default' title='Publier les commentaires'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8980863&amp;postID=111401055545379218' title='0 commentaires'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8980863/posts/default/111401055545379218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8980863/posts/default/111401055545379218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://baia-profile.blogspot.com/2005/04/ketika-sang-waktu-mulai-mengepakkan.html' title=''/><author><name>Baianoe</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05442010809055020370</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
